Tampilkan postingan dengan label Kuliah Ramadlan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah Ramadlan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Agustus 2010

Ahlan Wa Sahlan ya Ramadhan

Ahlan Wa Sahlan ya Ramadhan, bulan seribu bulan, bulan yang penuh dan Rahmat dan ampunan, bulan dirindukan seluruh umat muslim, akhirnya tiba.


ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga golongan yang doa mereka tidak ditolak: (1) orang yang berpuasa hingga ia berbuka, (2) imam yang adil dan (3) doa orang yang dizalimi.” (HR Tirmidzi 3522)


perbanyaklah berdoa dan memohon ampun pada bulan suci ramadhon, InsyaAllah doa kita dikabulkan.

Dan terlebih lagi saat menjelang berbuka ketika menanti tibanya azan Magrib. Kita harus memanfaatkan waktu sebaiknya untuk berdoa saat itu. Maka, saudaraku, manfaatkan kesempatan emas menjelang berbuka dengan mengajukan berbagai permintaan kepada Allah ta'aala. Sebab sebagian masyarakat kita malah menghabiskan waktu dengan ngobrol tidak karuan menjelang magrib di bulan Ramadhan. Padahal coba perhatikan hadits berikut:

سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ
“Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak pada saat berbuka.” (HR Ibnu Majah 1743)

Lalu apakah lafal khusus Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelang ifthor berbuka puasa? Beliau membaca sebagaimana dijelaskan dalam hadits di bawah ini:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ
وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Jika Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam berbuka, ia berdoa: Dhahabazh-zhoma-u wab tallatil-'uruq wa tsabbatal-ajru insyaa Allah “Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat dan semoga ganjaran didapatkan, insya Allah.” (HR Abu Dawud 2010)

Mengapa di dalam doa berbuka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan: ”...dan semoga ganjaran didapatkan, insya Allah.”?
Karena sesungguhnya yang sangat diharapkan bukan semata kegembiraan pertama sewaktu berbuka di dunia, melainkan yang lebih diharapkan orang beriman ialah kegembiraan kedua yaitu saat bertemu Allah ta’aala di hari berbangkit kelak. Orang beriman ketika itu bergembira berjumpa Allah ta’aala karena puasanya sewaktu di dunia diterima olehNya. Demikianlah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda dalam hadits sebagai berikut :

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ
Bagi orang yang berpuasa terdapat dua kegembiraan. Kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat kelak perjumpaannya dengan Allah ta’aala karena ibadah puasanya.” (HR Bukhary 1771)

Hidup manusia di dunia adalah pergantian antara susah dan senang. Maka selama bulan Ramadhan khususnya, marilah kita membaca yang Nabi shollallahu ’alaih wa sallam biasa baca ketika menghadapi keadaan susah maupun menerima karunia. Untuk mengantisipasi kesusahan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam melazimkan kalimat istighfar sebagaimana hadits berikut:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa yang tetap melakukan istighfar, maka Allah subhaanahu wa ta’aala akan membebaskannya dari segala kesusahan dan melapangkannya dari setiap kesempitan serta akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak diduganya.” (HR Abu Dawud 1297)

Sedangkan ketika menerima karunia, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menganjurkan kita membaca sebagaimana hadits berikut:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا كَانَ الَّذِي أَعْطَاهُ أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ
“Setiap orang yang diberi karunia Allah ta'aala lalu ia membaca ‘Alhamdulillah’, maka Allah ta’aala akan berikan yang lebih utama daripada apa yang telah ia terima.” (HR Ibnu Majah 3795)

Selasa, 15 September 2009

OBJECTS OF I'TIKAAF AND ITS ADVANTAGES


In view of the above, it is advisable that everyone entering the Masjid to join the congregational prayer should, on entering the Masjid, make the Niyyat for 'I'tikaaf', in that case it means that aslong as he remain busy with Salaat, Zikr, listening to lectures or sermons he also receive reward for the I'tikaaf. I always observed that my late father used to make 'Niyyat' for I'tikaaf whenever he entered the Masjid. Occasionally, by way of teaching and reminding his followers, he would raise his voice when reciting when reciting the words for 'Niyyah'. The reward for I'tikaaf is great as indicated by the fact that the Holy Prophet (sallallahu alaiyhi wassallam) always used to perform I'tikaaf. The example of him who resides in the Masjid in I'tikaaf is that of a person who, having gone to a certain place to appeal for something, remains there until it is granted. When someone comes begging at our door and then refuses to leave until he has been granted his request. I am sure that even the person with the hardest heart amongst us will eventually give in to his request. How much more Merciful is Allah, and when someone persistently sits at His door, what doubt can there be in the fulfilment of his wishes. Allama ibn Qayyim, in explaining the significance of I'tikaaf writes that the actual aim is to divert the heart away from everything except Allah, and to make it come near to Allah, thereby forming a complete spiritual connection with the Creator. All wordly connections are thus cut off, for the sake of gaining Allah's attention and all thoughts, desires, love and devotion become centred around Him. As a result, an attachment with Allah is attained - a love and friendship that will be the only support in loneliness of the grave. One can possibly imagine the great ecstacy with which that time in the grave will be spent. In Maraaiqul Falaah, the author writes that I'tikaaf, when properly and sincerely performed, is among the most virtuous deeds. One cannot possibly enumerate all the great advantages and benefits in it. In actual fact, what takes place in I'tikaaf is that the heart is drawn away from everything else except the Creator, while the soul is actually laidat His door-step.

All the time, one remains in a state of 'Ibaadah', even when one is asleep, one is still in His worship striving for nearness to Him. And Allah says (according to a Hadith): "Whoever draws near to Me (the length of) one hand, then I draw nearer to him (the length of) two hands, and whoever draws near to Me by walking, I draw nearer to him by running." Moreover, in I'tikaaf one seeks refuge in the house of Allah, and is safe therein from all enemies

_________________________________________________________________

Senin, 14 September 2009

Tips for the Night of Power



Here are some tips of things we can do on the Night of Power and the time before and after it.

1. Do Itikaf

It was a practice of the Prophet to spend the last ten days and nights of Ramadan in the masjid for Itikaf.

Those in Itikaf stay in the masjid all this time, performing various forms of zikr (the remembrance of Allah), like doing extra Salat, recitation and study of the Quran. They do not go outside the masjid except in case of emergencies, therefore, they sleep in the masjid. Their families or the masjid administration takes care of their food needs.

Itikaf of a shorter period of time, like one night, a day or a couple of days is encouraged as well.

2. Make this special Dua

Aisha, may Allah be pleased with her, said: I asked the Messenger of Allah: 'O Messenger of Allah, if I know what night is the night of Qadr, what should I say during it?' He said: 'Say: O Allah, You are pardoning and You love to pardon, so pardon me.' "(Ahmad, Ibn Majah, and Tirmidhi).

The transliteration of this Dua is "Allahumma innaka `afuwwun tuhibbul `afwa fa`fu `annee"

3. Reflect on the meaning of the Quran

Choose the latest Surah or Surahs you've heard in Tarawih and read their translation and Tafseer. Then think deeply about their meaning and how it affects you on a personal level.

4. Make a personal Dua list.

Ask yourself what you really want from Allah. Make a list of each and everything, no matter how small or how big it is, whether it deals with this world or not. Allah loves to hear from us. Once this list is ready, you can do three things:

* Ask Allah to give you those things
* Think about what actions you have taken to get those things
* Develop a work plan to get those things in future.

5. Evaluate yourself.

Ask yourself those questions that need to be asked. Do an evaluation of where you are and where you are going. Let this evaluation lead you to feel happiness for the good you have done and remorse for the bad you have done. This latter feeling should make it easier to seek Allah's sincere forgiveness when making the Dua mentioned in tip number one above.

6. Have Iftar with the family

If you've spent Iftar time on weekdays in your cubicle at work alone with a couple of dates, now is the last few days you'll have this Ramadan to spend with your family. Use it wisely.

7. Finish reading a book on the Prophet

Read about the Prophet's life, which can increase your love for him and Islam by seeing how much he struggled for Allah's sake. It may inspire you to push yourself even harder during these last ten nights. This community is built on sacrifice.
_________________________________________________________________

Jumat, 04 September 2009

Common Mistakes In Ramadan By Sheikh Ahmad Musa Jibril (May Allah hasten his release)

In the Name of Allâh, the Most Beneficent, the Most Merciful
Bismillah Wasalatu wasalam A'la Rasulillah. Ama Ba'ad

Common Mistakes During Ramadan:

1) Focusing on food; to the extent that people begin to worry about eating more then actually fasting. This also goes along with spending tons of money on Iftars even though a person does not need to eat that much food.

2) Making Suhr way before Fajr. Some people eat Suhr a few hours after Tarawih or Isha Salah, this is wrong. It should be eaten closer to the time of Fajr.

3) People don't make Niyyah [intentions] to fast for Ramadhan. This is something in the heart and does not need to be verbal. Also it only needs to be done once, at the beginning of Ramadhan and not every single day.

4) If you find out late that Ramadhan started, you should stop eating and fast for that day, making that day up after Ramadhan/Eid ends.

5) Many people don't think you pray Tarawih on the first night of Ramadhan. They believe you pray it after the first day you actually fast. They forget that the Islamic calendar runs on the moon, maghrib is the start of the new day.

6) Many people believe if you eat or drink on accident this breaks your fast. This is false, if you do this on accident then you continue fasting and do not need to make up the day.

7) Some people take the opinion that if they see someone eating or drinking they should not remind the person that he/she is fasting. According to Shaykh Bin Baz [ra], this is incorrect and it is an order from Allah for us to ordain the good and forbid the evil. Thus we tell the person, because we are forbidding the evil this way.

8) Many sisters believe they cannot use Hennah while fasting. This is incorrect, they are allowed to use it during Ramadhan.

9) Some people believe when you are cooking you cannot taste the food to see if it has the right spices/flavors. This is false, and allowed in Islam as long as the person cooking is not eating the food. Rather they can taste it to see if it needs salt, or more spices.

10) Many people think you cannot use a Miswak or toothbrush during Ramadhan. This is false, for the Prophet [saw] used to use a miswak during Ramadhan. Also you CAN use toothpaste; the reasoning by the scholars is that the Miswak has flavor, thus toothpaste is okay to use [if you are not eating it].

11) Some people make the Fajr Adhan early. They do this so people will stop eating before Fajr and not invalidate their fast. This is wrong and something we should not do.

12) Some people make the Maghrib Adhan late. They do this so people will start eating late, just incase Maghrib has not come in yet. This too is wrong and we should not do this.

13) Many many people believe you cannot have intercourse with your spouse during the whole month of Ramadhan. This is false, you cannot do this only during the times when you are fasting. Between Maghrib and Fajr it is permissible to do.

14) Many women believe that if their period has just ended and they did not make Ghusl, they cannot fast that day [considering their period ended at night, and they went to bed without Ghusl, waking up without having a chance to make it]. This is incorrect, if a women has not made Ghusl she can still fast.

15) Many men believe that if he has had intercourse with his wife and did not make Ghusl [similar to the above] then he cannot fast the next morning. This is also incorrect, for he can fast even if he has not made Ghusl.

16) Some people pray Dhur and Asr prayers together during Ramadhan. (mainly in Arab countries) This is incorrect and should be avoided.

17) Some people believe you cannot eat until the Muadhthin is done calling the Maghrib Adthan. This is incorrect, as soon as he starts a person can break their fast.

18) Many people don't take advantage of making D’ua before they break their fast. This is one of the three times when Allah accepts a person D’ua.

19) Many people make the mistake of spending the later part of Ramadhan preparing for ‘Id, neglecting Ramadhan. This is incorrect and these people lose the concept of what Ramadhan is about.

20) Many parents do not let their children fast during Ramadhan [young children]. This is something counter productive to a child. By allowing him to fast he will grow up to know he must do this act.

21) Many people think Ramadhan is just about not eating and forget about controlling their tempers and watching what they say. In actuality we are supposed to control our tempers and mouths even more during Ramadhan.

22) People often waste their time during Ramadhan. They go to sleep during the day and get nothing done. We should be taking advantage of this blessed month by doing extra Ibadat.

23) Some people don't go on trips or travel during Ramadhan. They think they have to break their fast when traveling. This is actually optional, if you want to break your fast while traveling you can [with making it up later], and if you don't you can continue fasting.

24) Many people who are able don't make I’tikaf at the masjid. We should take advantage of our good health and spend lots of time at the Masjid, especially the last 10 days of Ramadhan.

25) Some people believe they cannot cut their hair or nails during Ramadhan. This is also false.

26) Some people say you cannot swallow your spit during Ramadhan. This too is false. However you cannot swallow mucus that has entered your mouth.

27) Some people say you cannot use scented oils or perfumes during Ramadhan. This too is false.

28) Some people believe bleeding breaks the fast. This is not true.

29) Some people believe if you throw up on accident it breaks your fast. This is not true, however if you do it intentionally it does.

30) Some people think you cannot put water in your nose and mouth during wudhu in Ramadhan. This too is incorrect.

Copied from facebook group " Islam: Submission to God, Peace "
________________________________________________________________

Sabtu, 29 Agustus 2009

MERAIH KEUTAMAAN BULAN RAMADLAN

by Hilyat Hasan

QS Al Baqarah : 186
“Diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan bagi orang-orang sebelum kalian agar supaya kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.”
                Ramadlan adalah bulan agung yang penuh berkah dan keemuliaan. Di dalamnya Allah SWT secara khusus mewajibkan bagi setiap mukmin berpuasa dengan tujuan agar menjadi orang yang bertaqwa.
                Pada hakekatnya, setiap mukmin berpeluang mendapatkan pahala yang sangat besar dari setiap amalannya baik fardlu dan sunnah ataupun meninggalkan yang haram dan makruh dengan ganjaran 70 kali pahala bila dilakukan di selain bulan Ramadlan. Subhanallah.
                Dalam puasa Ramadlan setiap mukmin juga berpeluang mendapat ampunan Allah SWT atas dosanya yang telah lalu. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda :
"Siapa yang berpuasa pada bulan ramadlan karena keimanan dan mengharapkan keridlaan Allah, akan diampuni dosa-dosa yang terdahulu." (HR. Ahmad dan Ash-habus Sunan).
                Untuk meraih kesuksesan di bulan Ramadlan setidaknya ada 3 hal yang perlu dipersiapkan.
1.       1. Persiapan ilmu
Kita perlu mengkaji kembali hukum-hukum ketentuan puasa dan semua amal yang terkait, sehingga puasa ramadlan dan seluruh amal yang ada di dalamnya tidak akan dijalani sekedar ritual rutin tahunan. Sebab hakekat puasa adalah penghambaan dan pengorbanan untuk Allah.
2.       2. Persiapan aspek ruhiah dan upaya memperkuat keimanan.
Keberhasilan menjalani puasa ramadlan bergantung pada landasan iman dan niat semata-mata untuk mencari ridla Allah SWT.
3.       3. Perencanaan aktifitas di bulan ramadlan
Ini perlu. Supaya tidak ada kesempatan yang terabaikan dan ramadlan bias kita jalani secara maksimal.
               
                Ketiga hal ini bila dikaitkan dengan tujuan dilaksanakannya shaum ramadlan adalah adanya sebuah pemahaman bahwa tujuan dari amalan ramadlan adalah ‘taqarrub’ kepada Allah SWT (mendekatkan diri kepada Allah). Sementara aktifitas taqarrub yang paling dicinta oleh Allah adalah semua aktifitas yang difardlukan kepada hambaNya. Tentunya tidak terbatas pada aktifitas ibadah mahdlah saja. Justru aktifitas fardlu diluar ibadah mahdlah jauh lebih banyak lagi.  Sehingga tidak ada amalan fardlu yang ditinggalkan hambaNya dengan mengerjakan amalan fardlu yang lain.
                Oleh karena itu kesuksesan menjalani proses selama ramadlan hanya akan bisa diraih jika kita memahami Islam secara utuh sebagai sebuah sistem kehidupan. Untuk itu diperlukan aktifitas dakwah yang dapat mewujudkan “kesadaran” akan pentingnya penerapan syari’at Islam secara kaffah. Juga keharusan bagi setiap muslim untuk thalabul ‘ilmi (belajar memahami ajaran Islam) agar mampu meraih predikat  ‘faqih fiddiin’. Inilah aktifitas wajib yang mestinya ada dalam daftar aktifitas setiap muslim selama ramadlan, di samping shiam ramadlan dan ibadah-ibadah fardlu serta sunnah lainnya seperti tarawih, tadarus al Qur’an, ta’jil, I’tikaf, shodaqah dan sebagainya.
________________________________________________________________

Selasa, 25 Agustus 2009

keutamaan bulan Ramadhan

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”, QS. Al-Baqarah [2] : 183.

1. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:

“Adalah Rasulullah SAW memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa'." (HR. Ahmad dan An-Nasa'i)

2. Dari Ubadah bin AshShamit, bahwa Rasulullah bersabda:

"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, AIlah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do'a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini. " (HR.Ath-Thabrani, dan para periwayatnya terpercaya).

Rahasia Puasa Ramadhan
Sebagai muslim yang sejati, kedatangan dan kehadiran Ramadhan yang mulia pada setiap tahun merupakan sesuatu yang amat membahagiakan kita, betapa tidak, dengan menunaikan ibadah Ramadhan, amat banyak keuntungan yang akan kita peroleh, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak.
Disinilah letak pentingnya bagi kita untuk membuka tabir rahasia puasa sebagai salah satu bagian terpenting dari ibadah Ramadhan.
Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah Fil Islam mengungkapkan ada lima rahasia puasa yang bisa kita buka untuk selanjutnya bisa kita rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan diantaranya :

a. Menguatkan Jiwa.
  • Dalam hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya, lalu manusia itu menuruti apapun yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang lain. Karenanya, di dalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi. Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan dari kepada Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan.
  • Allah memerintahkan kita memperhatikan masalah ini dalam firman-Nya yang artinya: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” QS. Al-Jatsiyah [45] :23.
  • Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala do’anya dikabulkan oleh Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: “Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do’a mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan do’a orang yang dizalimi” (HR. Tirmidzi).
b. Mendidik Kemauan.
  • Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala.
  • Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar. Karena itu, Rasulullah Saw menyatakan: “Puasa itu setengah dari kesabaran”.
  • Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima, kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.
c. Menyehatkan Badan.
  • Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani, hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi.
  • Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.
d. Mengenal Nilai Kenikmatan.
  • Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya, dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua, dapat dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga dan begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh.
  • Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita, hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami, dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air.
  • Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil. Rasa syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya, Allah berfirman yang artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasati Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih QS.Ibrahim [14] :7.
e. Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain.
  • Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain, sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir.
  • Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara kita di Ambon atau Maluku, Aceh dan di berbagai wilayah lain di Tanah Air serta yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya seperti di Chechnya, Kosovo, Irak, Palestina dan sebagainya.
  • Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti serakah dengan harta, kikir dan sebagainya. Allah berfirman yang artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “QS.At-Taubah [9] : 103.
Sambut Dengan Gembira.

Karena rahasia puasa merupakan sesuatu yang amat penting bagi kita, maka sudah sepantasnyalah kalau kita harus menyambut kedatangan Ramadhan tahun ini dengan penuh rasa gembira sehingga kegembiraan kita ini akan membuat kita bisa melaksanakan ibadah Ramadhan nanti dengan ringan meskipun sebenarnya ibadah Ramadhan itu berat.
Kegembiraan kita terhadap datangnya bulan Ramadhan harus kita tunjukkan dengan berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan Ramadhan tahun sebagai momentum untuk mentarbiyyah (mendidik) diri, keluarga dan masyarakat kearah pengokohan atau pemantapan taqwa kepada Allah Swt,
Sesuatu yang memang amat kita perlukan bagi upaya meraih keberkahan dari Allah Swt bagi bangsa kita yang hingga kini masih menghadapi berbagai macam persoalan besar, kita tentu harus prihatin akan kondisi bangsa kita yang sedang mengalami krisis, krisis yang seharusnya diatasi dengan memantapkan iman dan taqwa, tapi malah dengan menggunakan cara sendiri-sendiri yang akhirnya malah memicu pertentangan dan perpecahan yang justeru menjauhkan kita dari rahmat dan keberkahan dari Allah Swt.
Disalin dari miracles of Allah by Ratna Riss
_________________________________________________________________

Sabtu, 22 Agustus 2009

"20 Keajaiban Ramadhan"

Selama Ramadhan, Imam Syafi’i menghatamkan Al-Quran enam puluh kali, dua kali dalam semalam di dalam shalat. Inilah 'rahasia 20 Keajaiban Ramadhan'


Disarikan dari Hidayatullah.com oleh Agus Suprianto


1. Ramadhan jalan menuju ketaqwaan

Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana diwajibkan atas kaum sebelum kalian, agar kalian bertaqwa”. (Al Baqarah: 183).

Ayat di atas menerangkan bahwa puasa adalah sebab yang bisa mengantarkan pelakunya menuju ketaqwaan, karena puasa mampu meredam syahwat. Ini sesuai dengan salah satu penafsiran yang disebutkan Imam Al Qurthubi, yang berpatokan kepada hadits riwayat Imam Ahmad yang menyebutkan bahwa puasa adalah perisai.

2. Ramadhan bulan mujahadah

Para ulama’ salaf adalah suri tauladan bagi umat, mujahadah mereka dalam mengisi bulan Ramadhan amat perlu dicontoh. Seperti Imam Asyafi’i, dalam bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al-Quran dua kali dalam semalam, dan iti dikerjakan di dalam shalat, sehingga dalam bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al-Quran enam puluh kali dalam sebulan. Imam Abu Hanifah juga menghatamkan Al-Quran dua kali dalam sehari selama Ramadhan.

3. Puasa Ramadhan menumbuhkan sifat amanah

Wahbah Zuhaili dalam bukunya Al Fiqh Al Islami berpendapat bahwa puasa mengajarkan rasa amanat dan muraqabah di hadapan Allah Ta’ala, baik dengan amalan yang nampak maupun yang tersembunyi. Maka tidak ada yang mengawasi seseorang yang berpuasa agar menghindari hal-hal yang dilarang dalam berpuasa kecuali Allah Ta’ala

4. Puasa Ramadhan melatih kedisiplinan

Puasa juga melatih kedisplinan, Wahbah Zuhaili menjelaskan bahwa seorang yang berpuasa harus makan dan minum dalam waktu yang terbatas. Bahkan dalam berbuka puasapun harus disegerakan.

5. Puasa Ramadhan menumbuhkan rasa solidaritas sesama muslim

Wahbah Zuhali juga menjelaskan bahwa puasa Ramadhan menumbuhkan rasa solidaritas di antara sesama muslim. Pada bulan ini semua umat Islam, dari timur hingga barat diwajibkan untuk menjalankan puasa. Mereka berpuasa dan berbuka dalam waktu yang sama, dikarenaka mereka memiliki Rabb yang satu.

Seorang yang merasa lapar dan dahaga akhirnya juga bisa ikut merasakan kesengsaraan saudara-saudaranya yang kekurangan atau tertimpa bencana. Sehingga tumbuh perasaan kasih sayang terhadap umat Islam yang lain.

6. Puasa Ramadhan melatih kesabaran

Bulan Ramadhan adalah bulan puasa di mana pada siang hari kita diperintahkan meninggalkan makanan yang asalnya halal, terlebih lagi yang haram. Begitu pula di saat ada seseorang mengganggu kita. Rasulullah Saw. bersabda: “Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata 'Sesungguhnya aku sedang puasa." (HR. Bukhari)

7. Puasa Ramadhan menyehatkan

Rasulullah bersabda: ”Berpuasalah, maka kamu akan sehat” (HR. Ibnu Sunni), ada yang menyatakan bahwa hadits ini dhoif, akan tetapi ada pula yang menyatakan bahwa derajat hadits ini sampai dengan tingkat hasan (lihat, Fiqh Al Islami wa Adilatuh, hal 1619).

Tapi makna matan hadist bisa tetap diterima, karena puasa memang menyehatkan. Al Harits bin Kaldah, tabib Arab yang pernah mengabdi kepada Rasulullah Saw. juga pernah menyatakan:”Lambung adalah tempat tinggal penyakit dan sedikit makanan adalah obatnya”.

8. Lailatul Qadar adalah hadiah dari Allah untuk umat ini

Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwatha’, dia telah mendengar dari seorang ahlul ilmi tsiqah yang telah mengatakan: “Sesungguhnya telah diperlihatkan usia-usia umat sebelumnya kepada Rasulullah Saw., atau apa yang telah Allah kehendaki dari hal itu, dan sepertinya usia umat beliau tidak mampu menyamai amalan yang telah dicapai oleh umat-umat sebelumnya, maka Allah memberi beliau Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan.” (HR. Malik).

9. Ramadhan bulan ampunan

Bulan Ramadhan adalah bulan ampunan, Rasulullah Saw. bersabda: “Dan siapa yang berpuasa Ramadhan dengan didasari keimanan dan pengharapan ridha Allah, diampunkan untuknya dosa yang telah lalu.” (HR. Bukhari)

10. Siapa yang dilihat Allah, maka ia terbebas dari adzab-Nya

Dari Jabir bin Abdullah ra. Rasulullah Saw. bersabda: ”Pada bulan Ramadhan umatku dianugerahi lima perkara yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumku. Yang pertama, sesungguhnya jika Allah melihat mereka di awal malam dari bulan Ramadhan, dan barang siapa yang telah dilihat Allah maka Ia tidak akan mengadzabnya selamanya…” (HR. Baihaqi).

11. Bau mulut orang berpuasa lebih harum dari misk di hadapan Allah

Rasulullah Saw. bersabda:”…Yang kedua, sesungguhnya bau mulut mereka ketika sore hari lebih harum di hadapan Allah daripada bau misk…” (HR. Baihaqi).

12. Di Bulan Ramadhan para malaikat meminta ampunan untuk umat ini

Rasulullah Saw. bersabda:”…Adapun yang ketiga, sesungguhnya para malaikat meminta ampunan untuk mereka siang dan malam…” (HR. Baihaqi).

13. Di bulan Ramadhan sorga berbenah diri

Rasulullah Saw. bersabda:”…Adapun yang keempat, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan surga-Nya, Ia berfirman: “Bersiap-siaplah, dan hiasilah dirimu untuk para hamba-Ku, sehingga mereka bisa segera beristirahat dari kelelahan (hidup di) dunia menuju negeri-Ku dan kemulyaan-Ku…” (HR. Baihaqi).

14. Di malam akhir Ramadhan Allah mengampuni umat ini

Rasulullah Saw. bersabda: ”…Adapun yang kelima, sesungguhnya jika tiba malam terakhir Ramadhan Allah memberi ampun kepada mereka semua. Lalu bertanyalah seorang lelaki dari sebuah kaum: ”Apakah itu lailatul qadar? Ia bersabda:” Bukan, apakah kau tidak mengetahui perihal orang-orang yang bekerja, jika mereka selesai melakukan pekerjaan maka imbalannya akan dipenuhi. (HR. Baihaqi)

15. Pintu sorga dibuka, pintu neraka ditutup, syaitan dibelenggu

Rasulullah Saw. Bersabda: “Jika Ramadhan tiba dibukalah pintu sorga dan ditutuplah pintu neraka serta syaitan-syaitan dibelenggu. (HR. Bukhari).

Dalam Syarah Shahih Muslim, Qadhi Iyadh menjelaskan bahwa makna hadits di atas bisa bermakna haqiqi, yaitu pintu sorga dibuka, pintu neraka ditutup serta syaitan dibelenggu secara haqiqi, sebagai tanda datangnya Ramadhan sekaligus pemulyaan terhadapnya. Tapi bisa juga bermakna majaz yang mengisyaratkan besarnya pahala dan ampunan di bulan itu, sehingga syaitan seperti terbelenggu.

16. Pahala syuhada bagi yang melakukan kewajiban dan menghidupkan Ramadhan

Datanglah seorang laki-laki kepada Nabi Saw. Dan mengatakan: ”Wahai Rasulullah, tahukah anda jika saya telah bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya anda adalah utusan Allah, aku juga telah melakukan shalat lima waktu, juga telah menunaikan zakat, serta aku telah berpuasa Ramadhan dan menghidupkannya, maka termasuk golongan siapakah saya? Rasulullah Saw. Bersabda: “Termasuk dari orang-orang yang sidiq dan syuhada’”. (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

17. Pahala amalan bulan Ramadhan berlipat ganda

Dari Salman ra., bahwasannya Rasulullah Saw. berkhutbah di hari terakhir bulan Sya’ban: ”Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan agung yang penuh berkah. Bulan yang terdapat di dalamnya sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang Allah jadikan puasa di dalamnya sebagai kewajiban, dan qiyamul lail sebagai hal yang disunnahkan, barang siapa mendekatkan diri di dalamnya dengan perbuat kebajikan, maka ia seperti mengerjakan kewajiban selainnya, dan barang siapa mengerjakan kewajiban di dalamnya, maka ia seperti mengerjakan tujuh puluh kewajiban selainnya…” (HR. Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya)

18. Seluruh hari dalam Ramadhan memiliki keutamaan

Rasulullah Saw. bersabda: “…Dia adalah bulan yang permulaannya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, serta paripurnanya adalah pembebasan dari neraka…” (HR. Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya)

19. Keutamaan memberi minum orang yang berpuasa

Allah akan memberi minum kelak di akhirat Rasulullah Saw. bersabda: “Dan barang siapa memberi minuman orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya dari telaga minuman yang tidak menghauskan hingga ia masuk ke dalam sorga”. (HR. Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya).

20. Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan

Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik sedekah yaitu sedekah di bulan Ramadhan.” (HR.Tirmidzi).

________________________________________________________________

Doa dan Dzikir Paling Shahih Saat Berbuka Puasa

Oleh: Badrul Tamam Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah, keluarga dan para ...